header-int

Sektor Pariwisata Melambat dan Pertanian Tahan Banting , Dampak Covid 19

Selasa, 12 Mei 2020, 01:57:19 WIB - 32 View
Share
Sektor Pariwisata Melambat dan Pertanian Tahan Banting , Dampak Covid 19

Pandemi Covid-19 telah membawa dampak menurunnya sektor pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung.

Dengan adanya pembatasan angkutan udara mulai tanggal 30 Maret 2020, baik di Bandara Depati Amir Pangkalpinang maupun Bandara HAS Hanandjoeddin Tanjungpandan, aktivitas pariwisata di Bangka Belitung melambat.

Hal tersebut juga berimbas pada pada penurunan aktivitas jasa persewaan mobil maupun biro perjalanan.

Selain itu, hotel, resort dan tempat makan juga banyak yang tutup sementara.

Hal tersebut terungkap pada acara diskusi regional daring dengan tema “Dampak Covid-19 terhadap Perekonomian Bangka Belitung yang diselenggarakan oleh STISIPOL P12 bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Bappeda Kabupaten Bangka, Rabu (06/05/2020).

Diskusi ini menghadirkan narasumber Oktarizal, Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kepulauan Bangka Belitung dan Tantan Heroika Sukmadrajat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung.

“Terjadi penurunan jumlah wisatawan di Kepulauan Bangka Belitung. Pada bulan Februari 2020 jumlah wisatawan yang datang ke Babel sebesar 33.064 orang. Angka tersebut kemudian menurun sebesar 30,48 % atau tercatat sebanyak 23.039 orang wisatawan. Kondisi ini telah berkontribusi terhadap kondisi ketenagakerjaan di Bangka Belitung. Berdasarkan data Disnaker Provinsi Kepulauan Babel, sampai dengan 8 April 2020 tercatat 1.338 pekerja diberhentikan sementara dan 221 orang mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” kata Oktarizal, Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Kepulauan Bangka Belitung.

Oktarizal menambahkan bahwa sektor pertanian di Bangka Belitung mengalami pertumbuhan positif pada kuartal 1 tahun 2020 bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Pada kuartal 1 tahun 2020 laju pertumbuhan pertanian di Bangka Belitung sebesar 1,37 sedangkan pada kuartal 1 tahun 2019 sebesar 0,72.

Laju Pertumbuhan tersebut disumbang oleh perkebunan tahunan.

Namun, pada awal tahun 2020 harga lada masih rendah meskipun ada sedikit perbaikan, hal ini membuat petani mulai beralih ke usaha lain dan menyebabkan terjadinya penurunan produksi perkebunan.

Pada sisi lain, banyak perusahaan kelapa sawit yang tidak bisa melakukan ekspor ke luar negeri karena negara tujuan ekspor menutup akses masuk ke negaranya.

Sementara itu, Shulby Yozar Ariadhy, Dosen STISIPOL Pahlawan 12 mengatakan dinamika sektor pembangunan tersebut mencerminkan perlunya perhatian pemerintah daerah bukan hanya pada satu sektor saja.

Namun harus berusaha untuk melakukan transformasi ekonomi sesuai dengan potensi daerah.

“Krisis yang terjadi saat ini memberikan pelajaran kepada kita tentang risiko ketergantungan pada saktu sektor pembangunan. Misalnya beberapa daerah di Indonesia yang PDRBnya didominasi oleh sektor pariwisata sekarang mengalami kontraksi dalam pertumbuhannya. Untuk itu, penting bagi pemerintah daerah agar mencari alternatif sumber pembangunan ekonomi bagi daerahnya dan tidak hanya bergantung pada satu sektor saja,” ujar Shulby Yozar Ariadhy.

Unidha
© 2020 Stisipol Pahlawan 12 Follow Stisipol Pahlawan 12 : Facebook Instagram Youtube